B-29 di Tengah Kota Jember

Planning merupakan salah satu agenda wajib yang harus kita susun terlebih dahulu sebelum kita melakukan sesuatu. Terlebih lagi bagi seorang traveler sejati, wajib hukumnya untuk menyusun planning sematang mungkin agar agenda perjalanan kita berjalan sesuai rencana dan berakhir bahagia. 
Namun ada satu hal yang harus kita garis bawahi bahwa sematang apapun rencana yang kita buat jika tuhan tidak menghendaki maka hasilnya ialah nihil. Salah satu pengalaman buruk saya dengan si-planning ini terjadi sekitar tahun 2016 lebih tepatnya pada bulan Juli. 

Bermula dari keinginan saya untuk melakukan pendakian, dikarenakan saya ini adalah seorang pemula dan sangat pemula, maka saya memilih medan yang sedikit mudah. Saya sudah mereview beberapa gunung yang dianggap paling baik untuk pemula dan jawaban yang muncul ialah B-29. Sebuah bukit yang memiliki ketinggian 2900 mdpl yang terletak didaerah Lumajang desa Argosari. Setelah saya memantapkan tujuan, mulailah saya mencari kawan yang siap diajak bergila ria selama perjalanan dan akhirnya saya mendapatkan tiga orang kawan yang siap berpetualang bersama. 

Persiapan awal yang saya lakukan ialah mencari rute serta transport termudah menuju desa Argosari. saya mulai bertanya kepada teman yang berdomisili di daerah Lumajang dan sekitarnya dan berharap supaya salah satu dari mereka pernah menginjakkan kakinya di puncak B-29 tersebut. Ternyata usaha saya tidak membuahkan hasil. Akhirnya saya mencoba memutar otak bagaimana cara saya bisa mendapatkan teman yang mengetahui dengan baik medan B-29. Beruntunglah saya hidup di zaman yang serba ada. Saya memanfaatkan kecanggihan teknologi pada masa itu. Instagram adalah sasaran medsos yang saya tuju karena ternyata banyak orang yang memposting pendakian ke B-29. Saya coba men-DM mereka dan bertanya apakah ada diantara mereka yang bisa membantu saya dan teman-teman saya. 

Usaha saya kali ini akhirnya berbuah manis. Muncul satu pemuda yang hobinya ialah mendaki dan kebetulan ia berdomisili di daerah Lumajang. Akhirnya saya berkonsultasi dengannya dan akhirnya muncul jalan keluar. Bahagia sekali rasanya menemukan titik terang setelah sekian lama terkurung dalam kegelapan. Ia menyarankan saya untuk menyewa transportasi seperti mobil jauh-jauh hari, karena biasanya mobil sewaan didaerah malang dan sekitarnya sudah mulai full ketika mendekati weekend. 

 H-7 sebelum keberangkatan akhirnya saya mendapatkan rental mobil yang masih tersisah beberapa mobil. Untuk saat itu saya belum memesan karena saya belum berkonsultasi dengan kawan-kawan saya. “yang penting udah punya kontaknya” pikir saya saat itu. Dan ternyata benar, ketika saya Tanya ke kawan saya, muncul pendapat lain, salah satu dari mereka berpendapat agar rute awal dimulai dari Kota Jember dikarenakan ada seorang teman saya yang berdomisili di Jember dan ia siap untuk memandu serta memberikan tumpangan rumah untuk kami. Akhirnya saya hanya menurut dan kita semua pindah ke rencana B. 

Hari H pun tiba. Kami janjian untuk bertemu di Tunjungan Plaza (TP) Surabaya karena kebetulan kami berempat berasal dari daerah yang berbeda-beda. Dari TP kami refreshin sejenak dengan menonton dan makan malam. Setelah itu dilanjut menuju terminal Bungur Surabaya untuk mencari bis menuju Jember. 
Keesokan harinya kami pun tiba di Jember sekitar pukul 05.00 subuh dini hari. Kami pun langsung mencari masjid terdekat, dan ternyata terdapat musholah kecil didepan terminal Jember. 

Kami pun mampir untuk meluruskan badan sekaligus menunaikan shalat subuh sembari menunggu kawan kami. Selama menunggu kami habiskan dengan bercerita dan tidur-tiduran. Tak terasa sudah hampir 3 jam kami menunggu namun kabar pun tak kunjung datang. Kami mencoba menghubungi kawan kami namun tidak ada jawaban. Tepat pada pukul 09.00 akhirnya kami mendapat kabar bahwa ternyata kawan kami yang sudah kami tunggu dengan segenap jiwa raga kami ternyata ia membatalkan diri dikarenakan adanya acara dadakan yang pastinya lebih penting dari acara jalan-jalan kami. Seketika badan ini terasa sangat lemas dicampur dengan hati yang mangkel. 

Akhirnya kami hanya tertawa untuk menutupi kekecewaan ini. Sangat disayangkan bahwa rute Jember ini bukanlah rute yang sudah sematang rute Lumajang, sehingga kami kebingungan untuk mencari transportasi yang bias mengantar kami ke B-29. Akhirnya kami banting setir dan mengubah rute liburan kami menuju Kota Jember. Mengelilingi kota yang sudah terlanjur kami duduki. 

 “kecewa sih ada, tapi ternyata di Jember kita punya cerita yang gak kalah bahagia dengan di puncak B-29. Tidak apa kita berlibur dimana saja, yang penting kita bersama-sama” ujar kawan saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINYAL MIRING.. :/

Idul Adha with G.I.T.A.R

UMROH CERIA