Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Suara Motor Abah

Hari ini adalah hari pertama aku berpuasa ramadhan di pondok ini. Aku tidak tinggal sendiri di pondok ini, tapi bersama teman seangkatanku yang saat ini tengah menjalankan agenda RIC, alias Ramadhan in Campus . Salah satu agenda yang kata senior paling berkesan adalah ketika akan kajian kitab Riyadus Shalihin bersama Mudir Ma'had lil Banat, yaitu Kyai Fikri atau sering kita panggil 'Abah'. Abah adalah orang yang paling kuhormati. Beliau sangat menghargai waktu. Beliau juga selalu datang sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan. Jarang sekali aku melihat beliau terlambat kecuali jika keadaan sudah sangat mendesak. Begitu pula pada kajian kitab yang rutin dilaksanakan setiap sore setelah ashar tepat. Di hari pertama kajian kitab, kami belum mengetahui dengan pasti jam berapa Abah akan datang, banyak dari kami yang datang terlambat hingga mendapat wejangan khas Abah tentang waktu. " Alwaqtu kash Shoif " begitulah yang kudengar diantara wejangan Abah yan...

Singkong Gratis

"Yes!! Minggu depan kita makdubaaah" teriak Novi yang kita panggil dengan bontot karena kelakuannya yang seperti anak kecil. Teriakan itu membuat semua orang yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing menjadi menoleh dan menghitung hari itu tiba. Setelah merasa apa yang dikatakan novi itu benar, mereka serempak berteriak menyuarakan kegembiraan mereka atas datangnya hari yang telah ditunggu-tunggu. Makdubah adalah acara makan bersama yang dilakukan oleh semua mahasantri dan diselenggarakan di kamar masing-masing, dan makdubah juga menjadi salah satu tanda bahwa hari liburan telah tiba. Semua santri sangat menantikan hari itu tiba. Bahkan para ustadzah pun begitu, senyuman mereka menjadi lebih lebar ketika detik-detik perpulangan telah tiba. Seketika aura asrama berubah menjadi aura liburan. Terlihat beberapa koper terjejer rapih di setiap kamar. Kebahagiaan itu hanya milik mereka yang bisa pulang sesuai dengan jadwal. Beda dengan aku yang memiliki masa aktif ha...

Nampan Persahabatan

"Mulai detik ini, dilarang makan menggunakan kertas nasi. Ingat, hukumnya haram. Dengar kalian semua!?" suara lantang itu memenuhi musholah asrama putri yang hanya seluas 5 x 10 meter persegi. Semua mahasiswi yang hadir hanya mampu duduk sambil menundukkan kepala mereka. Tidak ada yang berani membantah perkataan nyai berkerudung hijau itu. Setelah semua mahasantri dirasa faham dengan apa yang telah dikatakannya, Nyai   Fia itu langsung kembali duduk dan mempersilahkan ustadzah Nia selaku DKM untuk menutup acara pada saat itu juga. Segera setelah ditutup, Nyai Fia langsung undur diri dan pergi meninggalkan mushollah diikuti dengan suara ribut mahasantri yang bising seperti lebah. Peraturan baru ini membuat para mahasanti, khususnya aku merasa sangat keberatan. Bagaimana tidak, ketika waktu makan tiba, para mahasantri berbondong-bondong   menuju dapur untuk mengambil makan dan setelah itu kembali ke depan kamar masing-masing untuk makan. Tidak ada tempat makan di dapu...

an Accident

Entah sejak kapan kata peraturan itu menjadi kata yang dianggap jahat bagi semua orang. Seakan-akan peraturan membuat hidup kita menjadi tidak nyaman. Hampir di semua tempat yang pernah ku singgahi memiliki sederet macam peraturan yang harus dipatuhi. Jika kita melenceng dari peraturan tersebut, maka sanksi akan mendatangi kita tanpa perlu di jemput. Bagi mahasantri yang memilih tinggal di asrama ini harus menjalani prosedur kehidupan sesuai dengan apa yang sudah termaktub dalam kitab keramat yang kita sebut dengan 'Tengko'. Salah satu peraturan yang memberatkanku adalah perihal perizinan. Entah sejak dari dulu sampai sekarang aku merasa begitu terganggu dengan kata 'izin' itu. Prosedur perizinan pun tidak semudah yang aku bayangkan, harus melewati berbagai macam pertanyaan yang kadang berujung pada penolakan perizinan. Salah satu kasus yang paling berkesan dalam masalah perizinan ialah ketika aku menjabat sebagai bagian humas pada acara ESQ. Tugasku adalah me...

Segayung

Di bawah asbes yang mulai terkelupas itu aku menunggu giliran untuk membersihkan tubuhku dari debu yang menempel di tubuh lusuh ini. Sudah dua puluh menit aku menunggu giliran untuk bisa memasuki kamar mandi itu, namun orang yang di tunggu tak merasa bahwa ada banyak orang yang berharap ia segera menyelesaikan ritual air tersebut. Disaat aku sudah mulai lelah, tiba-tiba ada seorang teman yang datang menghampiriku dan ikut duduk disebelahku. Merasa bahwa aku sedang dirudung kebosanan, ia menunjukkan sebuah gayung hijau kepadaku. "Aku punya cerita lucu, kamu tau si Geger?" "Gegernya si Mia itu?" jawabku mengubah posisi dudukku dan menghadap kearahnya. "Iyaa, emang ada berapa Geger di dunia ini?" Aku hanya tersenyum melihat wajah kesalnya menanggapi kebodohan yang sengaja ku buat "Kabarnya dia itu kalo mandi segayung berdua loh sama si Uta" "Hah! Segayung berdua gimana maksudnya? Satu Hammam berdua?" "Ya nggak lah ...

GITAR Kesayangan

Gambar
Hari ini aku sangat letih setelah berjalan ratusan langkah mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan yang lain untuk memantau proses belajar para santri. Ku rebahkan tubuh ini diatas selimut biruku yang baru saja ku ambil dari atas tumpukan kasur. Seketika dunia terasa tentram sekali. Hawa kedamaian menyelimuti tubuhku. Tiba-tiba sebuah alunan lagu terputar dari laptop salah satu santri yang berada di depan kamarku. Sampai tiba pada lirik "Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu". Aku melamun. Mengingat kembali kenanganku bersama sahabat terbaik yang kutemukan di pondok ini. Terlintas moment saat perjumpaan pertama kami di kamar ujung yang saat itu terkenal dengan kamar keheningan. Semua orang yang memasuki kamar itu pasti akan merasa sangat   kaku karena penghuni kamar itu rata-rata adalah orang yang pendiam dan lebih memilih untuk membaca buku atau menghapal Al-Qur'an. Aku yang saat itu masih   anak baru memutuskan untuk ikut bergab...

What she said?

Dalam ilmu komunikasi dijelaskan bahwasannya salah satu unsur dalam komunikasi adalah bahasa yang digunakan sebagai penghantar pesan. Jika bahasa yang digunakan tidak dapat dipahami, maka pesan yang disampaikan tidak bisa diterima dengan baik. Bahasa menjadi masalah yang paling besar bagi para perantau karena mereka tidak bisa menguasai bahasa di tempat yang baru mereka singgahi. Permasalah seperti ini biasanya sering terjadi di lingkungan pondok yang sudah bertaraf nasional dimana semua santri berasal berasal dari berbagai macam penjuru indonesia. Pengalamanku akan kesulitan bahasa terjadi ketika aku baru menginjakkan kaki di Madura. Saat itu aku yang masih menjadi santri baru dan sedang mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baruku.   Aku mengajak seorang teman yang berasal dari Jawa Barat untuk jalan-jalan sore sekaligus melihat lingkungan baruku. Ketika sudah lelah, kami pun duduk di gubuk untuk istirahat. Tiba-tiba ada sebuah mobil Avanza hitam yang berhenti...

Adikku Sakit

Jauh dari orang tua adalah hal yang paling menyedihkan. Tidak bisa merasakan kasih sayang mereka lagi, tidak bisa merasakan masakan mama, tidak bisa bercerita dengan mama dan yang paling menyedihkan adalah tidak bisa dirawat mama ketika sakit. Salah satu alasanku mondok di Madura adalah untuk menemani adikku yang juga mondok   di pondok yang sama denganku, hanya beda lembaga saja. Jadi aku tidak sendiri di sini. Aku masih memiliki satu saudara yang bisa menjadi tempat curhatku. Jarak asramaku dengan adikku hanya sekitar 400 meter, dan biasanya jam kunjunganku adalah hari Jum'at. Jika santri lain dijenguk oleh orang tuanya tiap Jum'at, maka adikku adan di jenguk olehku tiap Jum'at. Ku habiskan hari Jum'atku dari pagi hingga sore di pondoknya. Mulai dari makan bakso di kantin, menelpon mama lewat wartel dan kadang aku membantu merapihkan lemarinya. Aku bahagia bisa bertemu dengannya di tiap Jum'at. Sampai akhirnya aku mendapat kabar sepucuk surat yang di...

DIANITA

Pernahkah kalian memiliki teman yang sehati dan sejalan denganmu? Disetiap pondok yang aku tempati, aku memiliki orang yang sejalan dengan diriku. Teman yang sependapat denganku. Teman yang segenre denganku. Teman yang sejenis denganku. Di pondok Solo, aku baru menemukan teman sehatiku saat aku duduk di kelas 1 MA. Dia sangat pengertian sekali. Tahu apa saja tentangku. Tahu apa yang ku suka. Tahu apa yang ku benci, dan ia juga tahu untuk menyikapi sifat keras ku. Nyaman sekali berada di dekatnya. Bahkan saking dekatnya, banyak orang bilang kalau wajahku mirip dengannya. Ketika aku mondok di Madura, aku juga menemukan teman yang seperti itu. Aku baru mengenalnya ketika aku duduk di semester 2.Entah bagaimana cerita pertemuan kita, yang ku tahu, aku telah berteman dengannya. Namanya Dianita. Anak Jember yang memiliki sifat cuek bebek, tak pernah menghiraukan penampilan. Bersifat "semau gue", dan agak sedikit tomboy. Hampir semua sifatnya itu sama denganku. Ent...

My Heaven

Aktifitas pondok yang berulang-ulang membuatku terkubur dalam kebosanan. Bingung mencari kegiatan apa yang dapat mengusir kebosanan. Bahkan saking bosannya aku sampai mengayal menemukan pintu doraemon yang terlantar sehingga aku dapat pergi kemanapun aku mau. Pernah di suatu sore, aku berinisiatif jalan sore menuju persawahan milik masyarakat setempat. Refreshing mata. Ingin melihat sesuatu yang hijau sekaligus menyegarkan paru-paru. Ku ajak beberapa teman dekatku. Mereka ternyata menyambut ajakanku dengan gembira. Kami berjalan seperti semut yang sedang berbaris. Terlihat indah karena kami memakai baju yang berwarna-warni. Sesekali terlihat ibu-ibu yang sedang memotong rumput. Ada pula bapak-bapak yang sedang memikul air untuk mengisi sumur di sawah mereka. Pemandangan yang sangat menyegarkan sekali. Sesampainya di ujung sawah kami dikejutkan dengan pemandangan yang lebih menarik perhatian kami. Seperti sebuah taman alami yang dibentuk oleh alam. Terlihat rumput-rumput t...

Kue yang Terciduk

Hari ini adalah hari ulang tahun keluargaku yang pertama. Tepatnya pada tanggal 09 September 2015. Setahun sudah keluarga ini berdiri. Tak terasa kami sudah mulai menyatu menjadi keluarga yang kokoh. Seperti marhalah lainnya, ulang tahun marhalah di rayakan dengan cara mengaji bersama serta dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari marhalah lainnya dan terakhir membagikan bingkisan kepada setiap marhalah. Sudah adatnya seperti itu, sehingga kami yang masih anak bawang hanya mengikuti adat yang sudah ada. Acara ulang tahun ini dirayakan dengan sangat sederhana, diselenggarakan di musholah IDIA dan hanya memberi sebuah bingkisan berisi jajanan kepada masing-masing marhalah, dilanjut dengan makan bersama di kelas bersama wali kelas tercinta. Sangat sederhana. Tapi itu tidak masalah, karena yang dibutuhkan adalah memupuk sifat kekeluargaan dan kekompakan. Terlihat rona kebahagiaan di wajah saudari-saudariku. Semua menyunggingkan senyuman yang indah. Tak ada satupun yang menekuk w...

Siraman Air Kebahagiaan

"Bahagia itu gak bisa di ukur dengan uang" Kalimat itu selalu terngiang di telingaku. Entah siapa yang mengucapkannya. Aku lupa. Tapi dari kalimat itu aku jadi memiliki keinginan untuk terus bisa bahagia. Bahagia juga tidak mesti dalam kondisi senang. Bahagia itu diciptakan. Salah jika ada orang yang setuju dengan kata "kebahagian itu di cari" karena sejauh apapun kita mencari kebahagiaan kalau diri kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan itu akan percuma. Sia-sia. Hari ini aku telah mempraktekan cara membuat kebahagian. Sepele sekali. Kubuat dari kegiatan yang awalnya terasa sangat membosankan menjadi sangat menyenangkan. Menguras Kamar Mandi. Bagi para santri, mendapat jatah menguras kamar mandi yang hanya seluas garasi mobil itu seperti menyapu lapangan sepak bola. Sangat melelahkan dan menyebalkan. Begitu pula aku, mengangkat sikat yang seukuran telapak tangan itu seperti mengangkat barbel seberat   seberat 5 kg. Untungnya menguras kamar mandi itu ...

Hilangnya si Biru

Kehilangan barang kesayangan di pondok itu bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi para santri. Mungkin bisa kita sebut dengan kebiasaan. Entah siapa yang dulu mengawalinya hingga akhirnya kegiatan itu menjadi suatu yang biasa bagi masyarakat pondok atau yang biasa kita sebut dengan santri. Bahkan saking seringnya kehilangan barang, ada orang yang mengatakan bahwa "Barang kita ketika di pondok itu akan menjadi milik bersama" Pengalaman pertamaku tentang kehilangan barang kesayangan ini terjadi saat usiaku baru 5 bulan di pondok ini. Dimulai saat aku memilih untuk membawa barang kesayanganku ke pondok ini.   Aku adalah pecinta converse dan ini adalah kali pertama ku memiliki sepatu converse yang ku beli dengan harga yang lumayan menyakitkan. Enak sih, nyaman sekali waktu kupakai, sesuai dengan harga yang ku bayar. Terasa nyaman di kaki walau ku ajak berlari puluhan meter. Berbeda sekali dengan jejeran sepatu yang ada di rak sepatuku. Berkat kenyamanannya, sepatu biru i...

Senyum Ketua Marhalah

Mataku terbelalak ketika mendengar seseorang menyebutkan namaku saat pemilihan kandidat ketua marhalah. Rasanya ingin kulempar seluruh isi tempat pensil ini ke wajahnya agar ia tahu betapa menyebalkan tingkahnya itu. "Kenapa harus namaku yang kau sebut diantara puluhan teman lainnya?" sahutku geram kepada si pemilik suara tersebut. "Dosakah aku menyebut namamu?" Jawabnya sambil menjulurkan lidah panjangnya itu, dan saat itu pula namaku resmi tertulis di papan tulis bersama empat orang lainnya sebagai kandidat ketua marhalah yang belum bernama itu. Setelah semua nama kandidat tertulis rapih, sesi pemilihan pun dimulai dengan berasas demokrasi ala anak SMA. Mula-mula semua kepala ditundukkan agar tidak ada yang dapat melihat pilihan teman sebelahnya, lalu Bunda kita mulai menyebutkan nama kanditat satu per satu. Terlihat beberapa tangan terangkat yang menandakan bahwa nama yang disebut ialah pilihannya. Hal itu diulang sampai pada nama kandidat terakhir.   Set...

Bunda Kita

Apa kesan pertama yang kalian dapat ketika datang di tempat baru? Makanan pembuka? Fasilitas yang menggiurkan?   Atau penyambut yang hangat? Menurutku, penyambut yang hangat adalah hal yang sangat membahagiakan bagi pendatang baru. Selain bisa membuat kita merasa nyaman, ia juga memberikan kita rasa aman akan tempat baru itu. Apalah yang paling menyenangkan bagi pendatang baru selain hidup tenang dan penuh kedamaian? Hal ini pernah kudapatkan ketika aku baru mendaratkkan diriku di bumi Jauhari ini. Aku disambut hangat oleh sesosok wanita berkulit sawo matang yang tersungging senyuman indah di bibirnya. Kehadirannya mampu membuatku melupakan kesedihan yang mendalam lantaran meninggalkan kehidupan lamaku di belakang sana. Aku mulai memberanikan diri untuk menyapanya, berharap bisa menjadikannya sandaran pertamaku di asrama mahasiswi ini sekaligus membuat kesan indah di pertemuan pertama ini. Namun betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa wanita itu bukanlah teman ...

Dunia Kelor

Hari jum'at merupakan hari kebebasan bagi para santri Al-Amien. Semua santri selalu menanti hari ini tiba. Ada yang bahagia karena akan di kunjungi oleh keluarganya. Ada yang bahagia karena terbebas dari pelajaran yang mencekik. Ada pula yang bahagia karena bisa shalat jum'at di masjid Jami' Al-Amien. Intinya semua orang berbahagia pada hari ini. Aku merupakan satu dari puluhan santri yang berbahagia karena bisa shalat jum'at di masjid Jami' Al-Amien. Alasan utama adalah karena aku bisa menghirup udara luar pondok walau hanya   sekejap saja, karena bagi santriwati perizinan itu ibarat ditilang polisi. Ribet. Entah mengapa, hari ini aku memilih untuk berangkat jum'atan bersama teman sedaerahku, Jawa barat. Namanya adalah Nanda. Dia adalah sosok mahasiswi yang terbilang mungil karena tinggi badannya yang setara dengan anak SD. Sesampainya di masjid, kita langsung menempati tempat kosong yang tersedia di barusan paling depan. "Kamu alumni MAN Cia...

Kebahagiaanku

"HAPPY GRADUATION VIM_ZANITHA" ucap ku serempak dengan teman seangkatanku seperti tengah melepaskan beban yang selama ini terpendam. Sontak para wali wisudawan dan wisudawati yang akan memasuki GESERNA melihat kearah kami semua yang tengah berjejer rapih di sisi kiri gedung. Akhirnya aku bisa melewati semua rintangan di pondok ini. Aku tak pernah menyangka bisa mendapatkan kebebasan ini. Aku pun tak pernah mengira semua ini akan berjalan semudah ini. Saat aku mulai mengenakan toga wisuda, yang terlintas di pikiranku adalah pertanyaan "apakah ini semua ini hanya mimpi?" Aku bersyukur sekali bisa menjadi wisudawati IDIA Prenduan. Karena dari kampus ini aku bisa mendapatkan banyak pelajaran. Bukan hanya pelajaran umum saja, akan tetapi pelajaran kehidupan yang belum tentu bisa ku dapatkan di kampus luar. Saat aku menyadari hal itu, aku merasa malu pada diriku yang pernah membenci IDIA lantaran permintaan mama untuk pindah dari UIN Jakarta ke IDIA Prenduan. ...

Dilema

Pagi ini kumulai hariku dengan membuka jendela rumahku untuk menghirup udara pagi yang segar. Sederhana. Tapi dari udara itu aku bisa memperoleh ketenangan yang jarang bisa kudapatkan. Entah mengapa, belakangan ini pikiranku selalu saja dipenuhi oleh berbagai macam permasalahan yang muncul dihidupku. Mulai dari masalah keuangan sampai masalah perjodohan. Aku merupakan anak terakhir dari lima bersaudara yang mana keempat kakak yang mendahuluiku berjenis kelamin laki-laki, jadilah aku anak tercantik kesayangan ayah bundaku. Dan sekarang adalah hari keduaku menetap dirumah setelah aku menghabiskan 1 tahunku untuk mengabdi di pondok Darunnajah Jakarta. Kegelisahanku dimulai saat ada seorang santriku yang sering sakit dan meminta izin untuk pindah ke pondok yang sama dengan kakaknya. Sehari sebelum kepulangannya, ia berkata kepadaku bahwa yang akan mengurus berkas-berkas perpindahannya ialah Ustad Syahid yang tak lain adalah kakak sepupunya. Mendengar hal itu aku langsung berfikir ...