Segayung


Di bawah asbes yang mulai terkelupas itu aku menunggu giliran untuk membersihkan tubuhku dari debu yang menempel di tubuh lusuh ini. Sudah dua puluh menit aku menunggu giliran untuk bisa memasuki kamar mandi itu, namun orang yang di tunggu tak merasa bahwa ada banyak orang yang berharap ia segera menyelesaikan ritual air tersebut.

Disaat aku sudah mulai lelah, tiba-tiba ada seorang teman yang datang menghampiriku dan ikut duduk disebelahku. Merasa bahwa aku sedang dirudung kebosanan, ia menunjukkan sebuah gayung hijau kepadaku.
"Aku punya cerita lucu, kamu tau si Geger?"
"Gegernya si Mia itu?" jawabku mengubah posisi dudukku dan menghadap kearahnya.
"Iyaa, emang ada berapa Geger di dunia ini?"
Aku hanya tersenyum melihat wajah kesalnya menanggapi kebodohan yang sengaja ku buat
"Kabarnya dia itu kalo mandi segayung berdua loh sama si Uta"
"Hah! Segayung berdua gimana maksudnya? Satu Hammam berdua?"
"Ya nggak lah ndul!, dengerin omonganku, segayung berdua, bukan sehammam berdua"
"Ooooh, lah terus kalo pas mau mandi gayungnya gantian gitu?" tanyaku heran
"Ya aku juga gak tau lah Rin, aku kan Cuma denger kabar aja"
"Emang apa manfaatnya segayung berdua?"
"Kok kamu jadi nanya ke aku sih?" jawabnya sambil berdiri.
"Lah! Apa salahnya nanya? Kan kamu duluan yang mulai bahas itu"
"Aku itu cuma mau bilang begitu aja biar kamu tau"
"Haiih, apa coba cerita setengah-setengah. Kalau kasih kabar itu yang sempurna dong min, itu kan bisa bikin orang salah faham nantinya" ucapku sedikit kesal akibat berita separuh yang disampaikan temanku. Mungkin itulah salah satu penyebab wanita disebut sebagai Bigos, alias biang gosip. Suka menelan informasi bulat-bulat, tanpa perlu dicerna terlebih dahulu.

Keesokan harinya, karena aku penasaran ingin mengetahui kisah yang sebenarnya, aku langsung membuka facebook dan mengechat Uta yang kebetulah dia adalah salah seorang teman dekatku. Beruntung sekali ia juga sedang online. Langsung saja ku chat dia tanpa perlu membuang-buang waktu.
"Uta?"
"Ya apa?"
"Boleh nanya?"
"Apa? Tumben" jawabnya singkat. Uta adalah salah satu temanku yang bisa dibilang sangat irit dalam berbicara
"Aku denger katanya kamu segayung berdua sama si Geger ya?"
Titik tiga itu bergerak melambai di layar laptopku menandakan ia sedang menulis.
"Iya, kenapa emang?"
"Oh ternyata kabar itu bener ya? Aku Cuma mau memastikan kebenarannya saja"
"Iya"
Jawaban singkat itu sempat membuatku kesal. Tapi aku tidak heran, karena memang seperti itulah dia. Ketika ditanya kenapa jawabannya sangat singkat ia hanya menjawab malas mengetik. Simpel sekali.
"Kenapa kok gak pake gayung sendiri?"
"Ya pengen aja"
"Alasan utamanya?"
"Karena aku males naruh gayung di lemari"
"Hah!? Gayungnya ditaruh di lemari?" tanyaku heran
"Iya, soalnya kalau di luar itu nanti berantakan"
"Oh begitu, terus Geger rajin naruh gayung di lemari?" tanyaku lagi
"Iya, makanya aku nebeng dia biar ada yang mengamankan gayungnya" jawabnya dengan jawaban yang terbilang panjang menurutku.
Mendengar penuturannya, aku langsung tertawa terbahak-bahak. Tidak kuat membayangkan kelakuan temanku yang satu ini. Namun beberapa saat kemudian aku tersadar akan sesuatu. Momen seperti itulah yang nanti paling dirindukan.  Momen ketika ada sosok teman yang berdiri di samping kita. Terlebih, ketika sudah berada di rumah keadaannya sangat berbanding terbalik. Aku menjadi sangat kesepian, tidak ada teman, kecuali jika adik-adikku sudah pulang ke rumah. Rasanya aku ingin tinggal selamanya di pondok bersama teman-temanku, tapi itu hanyalah khayalan yang takkan menjadi kenyataan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINYAL MIRING.. :/

Idul Adha with G.I.T.A.R

UMROH CERIA