Nampan Persahabatan


"Mulai detik ini, dilarang makan menggunakan kertas nasi. Ingat, hukumnya haram. Dengar kalian semua!?" suara lantang itu memenuhi musholah asrama putri yang hanya seluas 5 x 10 meter persegi. Semua mahasiswi yang hadir hanya mampu duduk sambil menundukkan kepala mereka. Tidak ada yang berani membantah perkataan nyai berkerudung hijau itu.

Setelah semua mahasantri dirasa faham dengan apa yang telah dikatakannya, Nyai  Fia itu langsung kembali duduk dan mempersilahkan ustadzah Nia selaku DKM untuk menutup acara pada saat itu juga. Segera setelah ditutup, Nyai Fia langsung undur diri dan pergi meninggalkan mushollah diikuti dengan suara ribut mahasantri yang bising seperti lebah.

Peraturan baru ini membuat para mahasanti, khususnya aku merasa sangat keberatan. Bagaimana tidak, ketika waktu makan tiba, para mahasantri berbondong-bondong  menuju dapur untuk mengambil makan dan setelah itu kembali ke depan kamar masing-masing untuk makan. Tidak ada tempat makan di dapur dan tidak ada pula tempat untuk mencuci piring. Jadilah kita mengambil cara praktis agar tidak perlu mencuci piring, yaitu dengan menggunakan kertas nasi.

Sayangnya banyak dari kita yang tidak mengetahui cara menjaga kebersihan. Membuang nasi sekehendak mereka tanpa mempertimbangkan dampaknya, membiarkan kertas nasi terbuka di depan kamar mambuat pemandangan makin suram. Hal itulah yang mengundang tikus-tikus berkeliaran dengan bebas di asrama kami.

Sebab itulah, Nyai Fia merasa risih akan cara hidup kami dan sudah tidak tahan lagi dengan semua kekacauan ini hingga terbentuklah Fatwa yang mengharamkan penggunaan kertas nasi di asrama kami.

Aku terbiasa untuk makan secara berkelompok bersama dengan teman kamar yang akhirnya menjadi sahabat. Diawal hadirnya fatwa itu, kami merasa kebingungan dengan cara makan kami selanjutnya. Kami yang sudah terbiasa menggunakan kertas nasi merasa malas untuk kembali menggunakan piring. Malas untuk mencuci dan malas pula untuk makan sendiri karena kami sudah terbiasa makan dalam satu lahan kertas nasi.

Sampai akhirnya ilham itupun muncul ketika kami sedang berkumpul di kantor UKM. Zakiyah yang saat itu sedang tiduran, tak sengaja melihat sebuah nampan plastik tergeletak diatas lemari . Seketika ia berseru girang kepada kami "Hei kenapa kita gak beli nampan aja? Kan enak tuh lebar, bisa makan bareng. Nanti yang ambil nasi kita jadwal aja. Gimana?" serunya sambil tersenyum lebar. Kami yang mendengar hanya tertawa terbahak-bahak sambil berkata "Idemu jenius"

Kami duduk melingkar di musholah merundingkan masalah nampan. Hampir dua puluh menit kami berdiskusi diselingi candaan. Akhirnya kami menemukan jalan keluar. Khotim yang sering dikirim oleh kedua orang tuanya diberikan tugas untuk membeli nampan, aku dibebani mengambil jatah untuk sarapan, Khotim dan Nanda dibebani mengambil jatah makan siang, dan Zakiyah diberikan jatah mengambil untuk malam bersama Ima. Peraturan itu kami tulis dalam sebuah kertas serta dibubuhi oleh tanda tangan kami berlima.

Keesokan harinya, kami pun mulai makan dengan menggunakan nampan yang dibelikan oleh orang tua Khotim. Kami makan dengan perasaan yang bergejolak antara bahagia dan geli mengingat masa lalu yang kel

Komentar