Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2019

Suara Motor Abah

Hari ini adalah hari pertama aku berpuasa ramadhan di pondok ini. Aku tidak tinggal sendiri di pondok ini, tapi bersama teman seangkatanku yang saat ini tengah menjalankan agenda RIC, alias Ramadhan in Campus . Salah satu agenda yang kata senior paling berkesan adalah ketika akan kajian kitab Riyadus Shalihin bersama Mudir Ma'had lil Banat, yaitu Kyai Fikri atau sering kita panggil 'Abah'. Abah adalah orang yang paling kuhormati. Beliau sangat menghargai waktu. Beliau juga selalu datang sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan. Jarang sekali aku melihat beliau terlambat kecuali jika keadaan sudah sangat mendesak. Begitu pula pada kajian kitab yang rutin dilaksanakan setiap sore setelah ashar tepat. Di hari pertama kajian kitab, kami belum mengetahui dengan pasti jam berapa Abah akan datang, banyak dari kami yang datang terlambat hingga mendapat wejangan khas Abah tentang waktu. " Alwaqtu kash Shoif " begitulah yang kudengar diantara wejangan Abah yan...

Singkong Gratis

"Yes!! Minggu depan kita makdubaaah" teriak Novi yang kita panggil dengan bontot karena kelakuannya yang seperti anak kecil. Teriakan itu membuat semua orang yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing menjadi menoleh dan menghitung hari itu tiba. Setelah merasa apa yang dikatakan novi itu benar, mereka serempak berteriak menyuarakan kegembiraan mereka atas datangnya hari yang telah ditunggu-tunggu. Makdubah adalah acara makan bersama yang dilakukan oleh semua mahasantri dan diselenggarakan di kamar masing-masing, dan makdubah juga menjadi salah satu tanda bahwa hari liburan telah tiba. Semua santri sangat menantikan hari itu tiba. Bahkan para ustadzah pun begitu, senyuman mereka menjadi lebih lebar ketika detik-detik perpulangan telah tiba. Seketika aura asrama berubah menjadi aura liburan. Terlihat beberapa koper terjejer rapih di setiap kamar. Kebahagiaan itu hanya milik mereka yang bisa pulang sesuai dengan jadwal. Beda dengan aku yang memiliki masa aktif ha...

Nampan Persahabatan

"Mulai detik ini, dilarang makan menggunakan kertas nasi. Ingat, hukumnya haram. Dengar kalian semua!?" suara lantang itu memenuhi musholah asrama putri yang hanya seluas 5 x 10 meter persegi. Semua mahasiswi yang hadir hanya mampu duduk sambil menundukkan kepala mereka. Tidak ada yang berani membantah perkataan nyai berkerudung hijau itu. Setelah semua mahasantri dirasa faham dengan apa yang telah dikatakannya, Nyai   Fia itu langsung kembali duduk dan mempersilahkan ustadzah Nia selaku DKM untuk menutup acara pada saat itu juga. Segera setelah ditutup, Nyai Fia langsung undur diri dan pergi meninggalkan mushollah diikuti dengan suara ribut mahasantri yang bising seperti lebah. Peraturan baru ini membuat para mahasanti, khususnya aku merasa sangat keberatan. Bagaimana tidak, ketika waktu makan tiba, para mahasantri berbondong-bondong   menuju dapur untuk mengambil makan dan setelah itu kembali ke depan kamar masing-masing untuk makan. Tidak ada tempat makan di dapu...

an Accident

Entah sejak kapan kata peraturan itu menjadi kata yang dianggap jahat bagi semua orang. Seakan-akan peraturan membuat hidup kita menjadi tidak nyaman. Hampir di semua tempat yang pernah ku singgahi memiliki sederet macam peraturan yang harus dipatuhi. Jika kita melenceng dari peraturan tersebut, maka sanksi akan mendatangi kita tanpa perlu di jemput. Bagi mahasantri yang memilih tinggal di asrama ini harus menjalani prosedur kehidupan sesuai dengan apa yang sudah termaktub dalam kitab keramat yang kita sebut dengan 'Tengko'. Salah satu peraturan yang memberatkanku adalah perihal perizinan. Entah sejak dari dulu sampai sekarang aku merasa begitu terganggu dengan kata 'izin' itu. Prosedur perizinan pun tidak semudah yang aku bayangkan, harus melewati berbagai macam pertanyaan yang kadang berujung pada penolakan perizinan. Salah satu kasus yang paling berkesan dalam masalah perizinan ialah ketika aku menjabat sebagai bagian humas pada acara ESQ. Tugasku adalah me...

Segayung

Di bawah asbes yang mulai terkelupas itu aku menunggu giliran untuk membersihkan tubuhku dari debu yang menempel di tubuh lusuh ini. Sudah dua puluh menit aku menunggu giliran untuk bisa memasuki kamar mandi itu, namun orang yang di tunggu tak merasa bahwa ada banyak orang yang berharap ia segera menyelesaikan ritual air tersebut. Disaat aku sudah mulai lelah, tiba-tiba ada seorang teman yang datang menghampiriku dan ikut duduk disebelahku. Merasa bahwa aku sedang dirudung kebosanan, ia menunjukkan sebuah gayung hijau kepadaku. "Aku punya cerita lucu, kamu tau si Geger?" "Gegernya si Mia itu?" jawabku mengubah posisi dudukku dan menghadap kearahnya. "Iyaa, emang ada berapa Geger di dunia ini?" Aku hanya tersenyum melihat wajah kesalnya menanggapi kebodohan yang sengaja ku buat "Kabarnya dia itu kalo mandi segayung berdua loh sama si Uta" "Hah! Segayung berdua gimana maksudnya? Satu Hammam berdua?" "Ya nggak lah ...

GITAR Kesayangan

Gambar
Hari ini aku sangat letih setelah berjalan ratusan langkah mondar-mandir dari satu ruangan ke ruangan yang lain untuk memantau proses belajar para santri. Ku rebahkan tubuh ini diatas selimut biruku yang baru saja ku ambil dari atas tumpukan kasur. Seketika dunia terasa tentram sekali. Hawa kedamaian menyelimuti tubuhku. Tiba-tiba sebuah alunan lagu terputar dari laptop salah satu santri yang berada di depan kamarku. Sampai tiba pada lirik "Persahabatan bagai kepompong, merubah ulat menjadi kupu-kupu". Aku melamun. Mengingat kembali kenanganku bersama sahabat terbaik yang kutemukan di pondok ini. Terlintas moment saat perjumpaan pertama kami di kamar ujung yang saat itu terkenal dengan kamar keheningan. Semua orang yang memasuki kamar itu pasti akan merasa sangat   kaku karena penghuni kamar itu rata-rata adalah orang yang pendiam dan lebih memilih untuk membaca buku atau menghapal Al-Qur'an. Aku yang saat itu masih   anak baru memutuskan untuk ikut bergab...

What she said?

Dalam ilmu komunikasi dijelaskan bahwasannya salah satu unsur dalam komunikasi adalah bahasa yang digunakan sebagai penghantar pesan. Jika bahasa yang digunakan tidak dapat dipahami, maka pesan yang disampaikan tidak bisa diterima dengan baik. Bahasa menjadi masalah yang paling besar bagi para perantau karena mereka tidak bisa menguasai bahasa di tempat yang baru mereka singgahi. Permasalah seperti ini biasanya sering terjadi di lingkungan pondok yang sudah bertaraf nasional dimana semua santri berasal berasal dari berbagai macam penjuru indonesia. Pengalamanku akan kesulitan bahasa terjadi ketika aku baru menginjakkan kaki di Madura. Saat itu aku yang masih menjadi santri baru dan sedang mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baruku.   Aku mengajak seorang teman yang berasal dari Jawa Barat untuk jalan-jalan sore sekaligus melihat lingkungan baruku. Ketika sudah lelah, kami pun duduk di gubuk untuk istirahat. Tiba-tiba ada sebuah mobil Avanza hitam yang berhenti...

Adikku Sakit

Jauh dari orang tua adalah hal yang paling menyedihkan. Tidak bisa merasakan kasih sayang mereka lagi, tidak bisa merasakan masakan mama, tidak bisa bercerita dengan mama dan yang paling menyedihkan adalah tidak bisa dirawat mama ketika sakit. Salah satu alasanku mondok di Madura adalah untuk menemani adikku yang juga mondok   di pondok yang sama denganku, hanya beda lembaga saja. Jadi aku tidak sendiri di sini. Aku masih memiliki satu saudara yang bisa menjadi tempat curhatku. Jarak asramaku dengan adikku hanya sekitar 400 meter, dan biasanya jam kunjunganku adalah hari Jum'at. Jika santri lain dijenguk oleh orang tuanya tiap Jum'at, maka adikku adan di jenguk olehku tiap Jum'at. Ku habiskan hari Jum'atku dari pagi hingga sore di pondoknya. Mulai dari makan bakso di kantin, menelpon mama lewat wartel dan kadang aku membantu merapihkan lemarinya. Aku bahagia bisa bertemu dengannya di tiap Jum'at. Sampai akhirnya aku mendapat kabar sepucuk surat yang di...

DIANITA

Pernahkah kalian memiliki teman yang sehati dan sejalan denganmu? Disetiap pondok yang aku tempati, aku memiliki orang yang sejalan dengan diriku. Teman yang sependapat denganku. Teman yang segenre denganku. Teman yang sejenis denganku. Di pondok Solo, aku baru menemukan teman sehatiku saat aku duduk di kelas 1 MA. Dia sangat pengertian sekali. Tahu apa saja tentangku. Tahu apa yang ku suka. Tahu apa yang ku benci, dan ia juga tahu untuk menyikapi sifat keras ku. Nyaman sekali berada di dekatnya. Bahkan saking dekatnya, banyak orang bilang kalau wajahku mirip dengannya. Ketika aku mondok di Madura, aku juga menemukan teman yang seperti itu. Aku baru mengenalnya ketika aku duduk di semester 2.Entah bagaimana cerita pertemuan kita, yang ku tahu, aku telah berteman dengannya. Namanya Dianita. Anak Jember yang memiliki sifat cuek bebek, tak pernah menghiraukan penampilan. Bersifat "semau gue", dan agak sedikit tomboy. Hampir semua sifatnya itu sama denganku. Ent...

My Heaven

Aktifitas pondok yang berulang-ulang membuatku terkubur dalam kebosanan. Bingung mencari kegiatan apa yang dapat mengusir kebosanan. Bahkan saking bosannya aku sampai mengayal menemukan pintu doraemon yang terlantar sehingga aku dapat pergi kemanapun aku mau. Pernah di suatu sore, aku berinisiatif jalan sore menuju persawahan milik masyarakat setempat. Refreshing mata. Ingin melihat sesuatu yang hijau sekaligus menyegarkan paru-paru. Ku ajak beberapa teman dekatku. Mereka ternyata menyambut ajakanku dengan gembira. Kami berjalan seperti semut yang sedang berbaris. Terlihat indah karena kami memakai baju yang berwarna-warni. Sesekali terlihat ibu-ibu yang sedang memotong rumput. Ada pula bapak-bapak yang sedang memikul air untuk mengisi sumur di sawah mereka. Pemandangan yang sangat menyegarkan sekali. Sesampainya di ujung sawah kami dikejutkan dengan pemandangan yang lebih menarik perhatian kami. Seperti sebuah taman alami yang dibentuk oleh alam. Terlihat rumput-rumput t...