Singkong Gratis
"Yes!! Minggu
depan kita makdubaaah" teriak Novi yang kita panggil dengan bontot karena
kelakuannya yang seperti anak kecil. Teriakan itu membuat semua orang yang
sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing menjadi menoleh dan menghitung hari
itu tiba. Setelah merasa apa yang dikatakan novi itu benar, mereka serempak
berteriak menyuarakan kegembiraan mereka atas datangnya hari yang telah
ditunggu-tunggu.
Makdubah adalah
acara makan bersama yang dilakukan oleh semua mahasantri dan diselenggarakan di
kamar masing-masing, dan makdubah juga menjadi salah satu tanda bahwa hari
liburan telah tiba. Semua santri sangat menantikan hari itu tiba. Bahkan para
ustadzah pun begitu, senyuman mereka menjadi lebih lebar ketika detik-detik
perpulangan telah tiba. Seketika aura asrama berubah menjadi aura liburan.
Terlihat beberapa koper terjejer rapih di setiap kamar.
Kebahagiaan itu
hanya milik mereka yang bisa pulang sesuai dengan jadwal. Beda dengan aku yang
memiliki masa aktif hampir sebulan di pondok, artinya aku akan menghabiskan 20
hari ramadhanku di pondok ini karena masa peralihan itu telah tiba.
Ramadhan in Campus
atau yang disingkat RIC adalah masa peralihan dimana mahasantri akan memasuki
masa Niha'ie. Jadi para mahasantri semester 6 yang belum lulus RIC tidak akan
bisa mengikuti program Niha'ie, dan itu berarti menghambat proses kelulusan dari
pondok ini. Sebab itulah aku harus bersemedi lebih lama di pondok ini.
Semua kegalauan RIC
seketika hilang ketika Linda mengusulkan agar acara makdubah tahun ini handmade
saja alias masak sendiri agar lebih irit dan bisa makan sepuasnya dengan biaya
yang membahagiakan. Semua penghuni kamar terlihat semangat membicarakan masalah
itu. Linda yang terbilang paling mahir dalam hal memasak ditunjuk sebagai ketua
acara makdubah ini. Aku dan zakiyah serta Nanda dan Hasniar ditunjuk untuk
mencari daun singkong di perkebunan milik warga. Khotim, Imah dan beberapa anak
lainnya ditunjuk sebagai juru cuci piring, dan sisanya dikerahkan untuk
membantu Linda di bagian dapur.
Semua terlihat
setuju dengan pembagian itu, terlebih aku yang memang aslinya malas untuk
mencuci piring merasa terselamatkan dari puluhan piring-piring kotor itu.
Hari makdubah pun
tiba. Aku, Zakiyah, Nanda serta Hasniar langsung pergi menuju perkebunan
belakang kampus. Terlihat beberapa sawah yang dipagari oleh pohon singkong yang
menjuntai, dan itulah yang akan menjadi sasaran kami.
Jauh di tengah
sawah, terlihat beberapa ibu-ibu yang sedang mencabuti rumput-rumput liar yang
tumbuh di sekitar padi. Zakiyah memberanikan diri menyapa ibu tersebut untuk
meminta beberapa lembar daun singkong. Untunglah ibu itu bisa berbicara bahasa
Indonesia. Ibu itu menyuruh kami untuk mengambil daun singkong sepuas kami
karena mereka tidak membutuhkannya. Ia hanya butuh singkong yang masih tertanam
di dasar tanah itu.
Tanpa pikir panjang,
kamipun langsung membuka plastik hitam yang sudah kami bawa untuk tempat daun
singkong tersebut. Kami memetik beberapa daun yang terlihat masih segar dan
besar. Zakiyah yang paling terlihat sangat antusias. Selama memetik daun singkong,
Zakiyah tertawa puas sekali. Terlihat raut kebahagiaan di wajahnya. Alhasil
kami semua ikut tertular virus bahagianya.
Setelah 4 plastik
hitam yang kami baha itu terisi penuh oleh daun singkong pemberian Ibu, kami
pun pamit dan segera pulang ke kamar dan memamerkan hasil panen kami kepada
teman-teman. Namun ketika mereka melihat daun singkong yang kami petik, mereka
justru tertawa sambil berkata "Ya Ampun,,, ini kok yang diambil daun yang
tua sih? Kalau dimakan rasanya pahit". Kami yang masih letih hanya
mendengus kesal dan menjawa "Kenapa gak bilang tadi? Kita kan gak
tahu!"
Akhirnya kami pun
tetap memasak daun singkong itu dan dijadikan lalapan yang didampingi dengan
sambal terasi. Alhamdulillahnya menu lalapan itu habis walaupun harus dikirim
ke kamar lain.
Komentar
Posting Komentar