Adikku Sakit
Jauh dari orang tua
adalah hal yang paling menyedihkan. Tidak bisa merasakan kasih sayang mereka
lagi, tidak bisa merasakan masakan mama, tidak bisa bercerita dengan mama dan
yang paling menyedihkan adalah tidak bisa dirawat mama ketika sakit.
Salah satu alasanku
mondok di Madura adalah untuk menemani adikku yang juga mondok di pondok yang sama denganku, hanya beda
lembaga saja. Jadi aku tidak sendiri di sini. Aku masih memiliki satu saudara
yang bisa menjadi tempat curhatku.
Jarak asramaku
dengan adikku hanya sekitar 400 meter, dan biasanya jam kunjunganku adalah hari
Jum'at. Jika santri lain dijenguk oleh orang tuanya tiap Jum'at, maka adikku
adan di jenguk olehku tiap Jum'at. Ku habiskan hari Jum'atku dari pagi hingga
sore di pondoknya. Mulai dari makan bakso di kantin, menelpon mama lewat wartel
dan kadang aku membantu merapihkan lemarinya.
Aku bahagia bisa
bertemu dengannya di tiap Jum'at. Sampai akhirnya aku mendapat kabar sepucuk
surat yang dititipkan temannya. Isinya menceritakan tentang dirinya yang sedang
sakit dan memintaku untuk menjenguknya sore ini. Seketika pikiranku kacau. Aku
merasa galau. Sedih. Dilema. Semua bercampur jadi satu.
Sore itu aku pun
mengnjunginya, kulihat adikku sedang terbaring lemas di kasur sambil
berselimut. Ketika ku pegang keningnya, aku merasakan panas yang sangat.
Teman-temannya hanya bisa diam memandangi kami. Ketika ku tanya kenapa ia tidak
tidur di Mahjar (Tempat untuk orang sakit), ia hanya menjawab malas karena
udara disana sangat pengap dan juga bau.
Aku merasa iba melihat keadaan adikku yang bagiku sangat menyedihkan. saat itu aku sedang mencoba untuk tegar agar tidak menangis didepannya. Tiba-tiba adikku menggenggam tanganku dan berkata dengan sangat lirih "Kak, aku pengen pulang". Seketika air mata yang telah ku tahan dengan susah payah itu meleleh dan ia reflek berkata "Kok kakak nangis?". Pendengar perkatannya itu aku langsung tumbang dari pertahananku dan menangis sejadi-jadinya tanpa menghiraukan pandangan penghuni kamar lainnya. Aku merasa bingung harus bagaimana, yang kupikiran saat itu adalah
aku ingin membawanya pulang supaya ada mama yang bisa merawatnya.
Akhirnya kuputuskan
untuk membawanya ke asramaku agar aku bisa merawatnya tanpa harus
mondar-mandir. Alhamdulillahnya nyai mengizinkanku untuk membawanya. Malam itu
aku tidur dengannya. Terasa ada yang beda, jika biasanya aku tidur dengan
teman-temanku, kali ini aku tidur dengan adik kandungku sendiri.
Setelah beberapa
hari tinggal di IDIA, adikku sudah membaik, terlihat dari tingkahnya yang sudah
mulai membuat gaduh kamar. Dia itu anak yang cerewet, semua orang yang ia temui
pasti akan di ajaknya ngobrol. Begitu juga dengan teman-temanku, sehingga dia
mudah merasa nyaman dengan banyak orang, berbeda denganku. Yang lebih membuatku
kesal adalah banyak dari teman-temanku yang membanding-bandingkan aku dengannya
seperti "Kok lebih cantik Azizah ya dari pada Arina?". Mendengar hal
itu, aku hanya bisa tersenyum kecut dan mereka tertawa melihat wajahku.
Aku juga punya teman, namanya Arina, orang yang tampak kuat dan tegas dari luar. Namun begitu mudahnya terharu dan penuh perhatian. Dia jatang sekali mengeluh lelah, tapi tetap berusaha melakukan yg terbaik untuk segala sesuatu yang dirasa menjadi tanggung jawabnya
BalasHapuswaaaah Ima,, so sweeet.. :D
BalasHapus