Suara Motor Abah
Hari ini adalah hari
pertama aku berpuasa ramadhan di pondok ini. Aku tidak tinggal sendiri di
pondok ini, tapi bersama teman seangkatanku yang saat ini tengah menjalankan
agenda RIC, alias Ramadhan in Campus.
Salah satu agenda yang kata senior paling berkesan adalah ketika akan kajian
kitab Riyadus Shalihin bersama Mudir
Ma'had lil Banat, yaitu Kyai Fikri atau sering kita panggil 'Abah'.
Abah adalah orang
yang paling kuhormati. Beliau sangat menghargai waktu. Beliau juga selalu
datang sesuai dengan jadwal yang sudah di tentukan. Jarang sekali aku melihat
beliau terlambat kecuali jika keadaan sudah sangat mendesak. Begitu pula pada
kajian kitab yang rutin dilaksanakan setiap sore setelah ashar tepat.
Di hari pertama
kajian kitab, kami belum mengetahui dengan pasti jam berapa Abah akan datang,
banyak dari kami yang datang terlambat hingga mendapat wejangan khas Abah
tentang waktu. "Alwaqtu kash Shoif"
begitulah yang kudengar diantara wejangan Abah yang begitu panjang sebelum kami
memulai kajian kitab Riyadus Shalihin
Beruntunglah kami
karena itu adalah kajian pertama, sehingga Abah masih memberi kesempatan kepada
kami untuk tidak mengulanginya lagi. Seusai kajian, kami berbincang
mengenai strategi agar esok kami tidak
terlambat lagi. Semua terlihat bingung karena Abah datang dengan sangat cepat,
yaitu tepat setelah beliau melaksanakan shalat Ashar berjama'ah. Itulah yang
membuat kami sedikit kesulitan. Beruntung bagi mereka yang sedang berhalangan,
bisa bersiap-siap saat kami sedang shalat. Lain halnya bagi kami yang sedang
shalat, seusai shalat kami langsung terburu-buru untuk persiapan kajian. Bahkan
ada beberapa diantara kami yang mengungkapkan bahwa shalat asharnya sedikit
tidak khusuk karena teringat Abah.
"EEE kalian
hapal suara motor abah kan? Nanti kalo ada yang denger suara motornya langsung
panggil yang lain lah" Ujar wardah dengan logat maduranya yang khas. Kami
semua mengiyakan perkataan wardah, meminta bantuan untuk saling mengingatkan.
Alhasil, ketika
detik-detik ashar hampir tiba, ada beberapa diantara kami yang sudah mandi dan
sudar berdandan rapih. Ada pula yang sudah dandan rapih lengkap dengan kerudung
resmi tapi masih dilapisi dengan mukenah, katanya supaya selesai shalat langsung
lari. Adapula yang sudah stand by di
depan kamar dengan kitab dan seperangkat alat tulis. Semua terlihat sudah siaga
1.
Tiba-tiba dari arah
luar terdengar suara motorAbah. Seketika semua orang langsung berlari termasuk
juga aku di dalamnya takut terlambat untuk kedua kalinya. Sesamapinya di luar
gerbang, alangkah terkejutnya kami ketika yang terlihat di sepanjang jalan itu
adalah becak yang bersuara seperti motor Abah. Seketika kami tertawa
terbahak-bahak, sadar kalau kami telah ditipu oleh suara motor.
Akhirnya karena
sudah terlanjur keluar, kami menunggu Abah di Gazebo sambil bercerita tentang
segala hal yang terlintas di pikiran.
Kenangan itu masih
melekat keras di ingatanku, membayangkan betapa indahnya kebersamaan selama
ramadhan. Hal itu membuatku semakin merindukan mereka. Terlebih saat kami
tengah di pisahkan oleh jarak yang berjauhan demi mengabdi kepada pondok tercinta ini. Dalam
diam aku hanya bisa berdo'a semoga Allah masih memberikanku kesempatan untuk berkumpul kembali dengan semua
saudara-saudaraku.
Komentar
Posting Komentar