GITAR Kesayangan
Hari ini aku sangat
letih setelah berjalan ratusan langkah mondar-mandir dari satu ruangan ke
ruangan yang lain untuk memantau proses belajar para santri. Ku rebahkan tubuh
ini diatas selimut biruku yang baru saja ku ambil dari atas tumpukan kasur.
Seketika dunia terasa tentram sekali. Hawa kedamaian menyelimuti tubuhku.
Tiba-tiba sebuah
alunan lagu terputar dari laptop salah satu santri yang berada di depan
kamarku. Sampai tiba pada lirik "Persahabatan bagai kepompong, merubah
ulat menjadi kupu-kupu". Aku melamun. Mengingat kembali kenanganku bersama
sahabat terbaik yang kutemukan di pondok ini.
Terlintas moment
saat perjumpaan pertama kami di kamar ujung yang saat itu terkenal dengan kamar
keheningan. Semua orang yang memasuki kamar itu pasti akan merasa sangat kaku karena penghuni kamar itu rata-rata adalah
orang yang pendiam dan lebih memilih untuk membaca buku atau menghapal
Al-Qur'an. Aku yang saat itu masih anak
baru memutuskan untuk ikut bergabung dengan penghuni kamar itu karena orang
tuaku berharap agar aku bisa menjadi penghapal Al-Qur'an. Aku pindah ke kamar
ujung bersama dengan Nanda dan Zakiyah, dua teman pertamaku di pondok ini.
Berharap bisa menggapai apa yang sedang kami impikan saat itu. Menjadi
penghapal Al-Qur'an.
Saat pertama kali
bergabung di kamar itu, aku dan kedua temanku hanya bisa duduk dan
memperhatikan aktifitas penghuni kamar yang lain. Terkadang kami duduk
melingkar untuk mengobrol dengan suara bisik-bisik agar tidak mengganggu
kenyamanan orang lain. Sempat kami mengeluh tidak betah tinggal di kamar yang
kurang bersahabat itu, bahkan kami pernah bermain ke kamar lama kami dan
mengadu kepada senior kami tentang suasana yang menegangkan itu. Mereka hanya
bisa tertawa dan menyarankan agar kami bersabar.
Beberapa hari
kemudia, datanglah dua orang teman ku untuk ikut bergabung ke dalam kamar horor
itu. Mereka adalah Khotim dan Fatimah yang mana mereka selalu bersama disetiap
tempat dan waktu. Aku pun merasa bahagia karena merasa mendapat teman baru di
kamar itu. Sejak saat itulah kamu mulai berkumpul dan menjadi akrab untuk
pertama kalinya.
Aku dan ke empat
temanku yang merasa asing di kamar itu memilih untuk selalu bersama
kemanapun dan dimanapun. Dari tidur yang
saling berdekatan sampai makan bersama dalam satu kertas nasi. Tanpa ku sadari,
rutinitas itulah yang menyulam tali persahabatan ini. Kami sudah merasa seperti
menjadi saudara kandung yang terdampar di pulau yang menyeramkan.
Setelah beberapa
bulan tinggal di kamar itu, aku merasa kamar ini sedikit mencairkan kehangatan,
ada yang mulai mengajak kami berbicara, bahkan sampai ikut tertawa. Kami pun
merasa lebih ringan untuk bergerak kesana kemari. Dari kehangatan itu akhirnya
kami tahu beberapa informasi tentang kami yang menggelikan. Ada seorang
seniorku yang berkata "saya tuh lucu liat gerak gerik kalian, ngomong di
kamar ini aja sambil bisik-bisik. Emang ada apa sih?" ada pula yang
berkata, "Kamar ini memang sepi, biar anak-anak pada konsen buat
menghapal, tapi ya kalian jangan kayak main kucing-kucingan dong".
Mendengar itu, kami berlima pun tertawa sambil mengutarakan perasaan yang
selama ini terpendam.
Kehangatan kamar ini
semakin menghangatkan persahabatan kami. Kami mulai sering berjalan bersama.
Mulai dari berangkat ke kelas bersama, makan
dengan tempat makan yang sama, terkadang kami memakai bros yang sama, sampai
terdengar kabar bahwa kami telah membuat genk di pondok ini. Kami hanya tertawa
mendengar gosip tersebut.
Kami saling
melengkapi. Ketika ada pelajaran yang tidak ku pahami, aku bertanya kepada
Khotim atau Ima yang lebih pintar dari pada kami. Ketika kami sedang bosan atau
suntuk, maka Nanda akan hadir membawa kebahagiaan, dan ketika Ima dan Khotim
sedang di jenguk, maka kami pun ikut mendapat makanan yang nikmat.
Bukan hanya
persahabatan yang kurasakan di sini. Aku juga merasakan kekeluargaan. Seperti
saat aku ulang tahun. Mereka berempat sengaja tidak tidur sampai jam 12 malam
untuk membuatkan kejutan untukku. Membangunkanku secara diam-diam agar tidak
ada pengurus yang melihat, dan bernyanyi dengan bisik-bisik agar tidak
membangunkan orang lain, lalu berfoto bersama dengan kamera laptop milik
Khotim.
"GITAR kayaknya
cocok deh buat singkatan nama kita" ucapku suatu hari kepada mereka.
"Kok GITAR?
Nyambung dari mana rin?" Ucap Ima bingung
"Ku ambil huruf
G dari Zakiyah, kan namanya Cha Kyeong. Huruf I dari namamu Ma, huruf T itu
dari Khotim, terus huruf A itu dari Nanda si Ateng, dan R nya dari Aku.
Penutup" jawabku sambil tersenyum.
"Boleh boleh..
Bagus tuh, Gitar kan bisa menciptakan irama yang indah, kali aja kita bisa
menghibur orang-orang di sekitar kita" Jawab Khotim dengan gaya seperti
motivasi handal.
Akhirnya kami sudah
memiliki nama yang bisa menjadi identitas persahabatan, kami pun mulai
menggunakan nama GITAR dimanapun kami menulis. Seperti di Surat KKL
(kesepakatan Kita berLima), surat yang kami buat untuk saling mengingatkan agar
kami selalu berada di jalan yang lurus sampai kita lulus dari pondok ini.
Aku merasa bahagia
bisa bertemu dengan mereka. Dengan mereka aku memiliki beribu kisah yang
menyenangkan. Dengan mereka pula aku jadi mengerti arti dan pentingnya arti
persahabatan. Aku berharap agar persahabatan ini bertahan sampai akhir hayatku.

jadi RINDU, pengen cerita2 dikamar (sambil bisik2)
BalasHapusaaaahhhh bikin n sedihhh aja ka rinaaaaa...ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜¢ 🎸 Gitar @ka.rina @bubah @mbakzaky @ima 🤗
BalasHapusOiyaa, jangan lupaa asalnya nama kita Lupus wkwkkwkwkkw kocakkkkkk
BalasHapusSemoga persahabatnnya sampai surga ya..
BalasHapus