an Accident


Entah sejak kapan kata peraturan itu menjadi kata yang dianggap jahat bagi semua orang. Seakan-akan peraturan membuat hidup kita menjadi tidak nyaman. Hampir di semua tempat yang pernah ku singgahi memiliki sederet macam peraturan yang harus dipatuhi. Jika kita melenceng dari peraturan tersebut, maka sanksi akan mendatangi kita tanpa perlu di jemput.

Bagi mahasantri yang memilih tinggal di asrama ini harus menjalani prosedur kehidupan sesuai dengan apa yang sudah termaktub dalam kitab keramat yang kita sebut dengan 'Tengko'. Salah satu peraturan yang memberatkanku adalah perihal perizinan. Entah sejak dari dulu sampai sekarang aku merasa begitu terganggu dengan kata 'izin' itu. Prosedur perizinan pun tidak semudah yang aku bayangkan, harus melewati berbagai macam pertanyaan yang kadang berujung pada penolakan perizinan.

Salah satu kasus yang paling berkesan dalam masalah perizinan ialah ketika aku menjabat sebagai bagian humas pada acara ESQ. Tugasku adalah menyebarkan undangan ke seluruh kampus yang ada di daerah Sumenep serta mencari donatur bersama dengan Mawar yang berasal dari Sumenep. Beruntungnya di hari itu, kami dapat lolos dengan mudah dari sederet pertanyaan yang membebani. Kami hanya diberikan waktu 5 jam untuk menyebarkan undangan sebanyak 20 undangan, dan kami pun segera menyetujuinya, khawatir pemberi izin akan berubah pikiran

Kami pun pergi menyambangi satu per satu kampus yang berada di daerah Sumenep tersebut. Ada beberapa kampus yang menerima undangan kami dan ada pulang yang tidak. Bahkan ada pula yang masih tawar menawar masalah jumlah delegasi personil. Akhirnya setelah kami lelah, kami putuskan untuk singgah sebentar di rumah bibi Mawar yang berada di tak jauh dari tempat kami berpetualang.

Kata 'sebentar' bagi para santri itu tidak dapat diartikan dengan makna sebentar yang sesungguhnya. Niat kami yang awalnya hanya singgah untuk istirahat singkat akhirnya berubah ketika kami sudah berada di rumah bibi. Saat itu bibi sedang tidak berada di rumah, sehingga mengharuskan kami untuk menunggu hingga tuan rumah tiba. Ketika jam menunjukkan pukul 4 sore, bibi baru kembali dari rumah dan permohonan kami untuk pamit pun ditolak. "Gak usah pulang. Sudah sore. Gak ada bis yang beroperasi. Kalau ada pun jauh. Kamu harus ke terminal dulu. Jauh! Sudahlah, nginep dulu, cuma sehari kok. Mawar kan jarang main ke rumah bibi" ucap bibi saat itu. Kami pun tersenyum bahagia.

Saat itu tidak terlintas sedikitpun di pikiranku untuk izin ke ustadzah bahwa kami tidak bisa pulang saat itu. Justru masalah keungan yang belum ada pemasukan sama sekali. Alhasil, malam itu kami habiskan untuk menelpon para kerabat agar bersedia memberikan sedikit rezekinya untuk acara kami.

Keesokan harinya, kami terbangun dengan pikiran yang sama. Teringat akan pemasukan yang masih 0 rupiah. Akhirnya kami putuskan untuk menyambangi rumah para tetangga untuk meminta bantuan dana. Sungguh berat sekali cobaan saat hari itu. Kami benar-benar memasang wajah tebal untuk meminta uang kepada para tetangga yang tidak kami kenal.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Pintu demi pintu kami sambangi dan akhirnya pemasukan kami pada hari itu mencapai angka 300.000 rupiah ditambah pakdeku yang sedang berbaik hati kepadaku memberikan  tambahan angka di rekeningku sebanyak 1.000.000 rupiah. Sungguh melegakan. Kami pulang dengan bahagia. Tak sadar akan kekacauan yang telah kami perbuat.

Sesampainya di pondok, teman-teman pun sudah ramai dan langsung menyerbui kami dengan puluhan pertanyaan. "Hei, katanya kalian kecelakaan?!" ucap salah satu teman kami
"Loh kata siapa? Kok bisa kecelakaan?" aku terkejut mendengar pertanyaan Nanda yang bertanya kepadaku
"Soalnya kalian gak laporan kalau gak pulang. Jadi ada kabar kalo kalian kecelakaan. Katanya ketabrak mobil" terang Nanda kepadaku.
"Loh ya siapa yang nyebarin kabar pertama kali? Jahat banget" ucapku sebal
"Iya itu kemarin pas kumpul ada yang bilang gini, 'apa jangan-jangan mereka kecelakaan ya?' Nah dari situ anak-anak mulai nyangka kalau kalian kecelakaan" terang Nanda dengan wajah polosnya
"Haduh menyebalkan sekali, yasudah aku mau laporan ke ustadzah kalau sudah kembali" ucapku seraya keluar dari kantor

Setiba di depan kamar ustadzah, jantungku berdegup kencang. Khawatir akan dihujani beribu pertanyaan disertai dengan omelan. Akhirnya kuberanikan diri untuk memanggil ustadzah bagian perizinan. Ketika beliau keluar aku langsung memegang tangannya dan memohon maaf sambil memberikan penjelasan atas kekhilafan itu. Beliau hanya sedikit berceramah dan membiarkan saya pergi tanpa menghujami dengan omelan-omelan yang kutakuti.

Memang manusia itu harus ditegur dengan kasar terlebih dahulu supaya bisa memahami manfaat dari peraturan itu sendiri. Semenjak itu aku baru menyadari bahwa izin itu penting dan aku akan mulai untuk belajar memahami  pentingnya peraturan dalam kehidupan ini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINYAL MIRING.. :/

Idul Adha with G.I.T.A.R

UMROH CERIA