DIANITA
Pernahkah kalian
memiliki teman yang sehati dan sejalan denganmu?
Disetiap pondok yang
aku tempati, aku memiliki orang yang sejalan dengan diriku. Teman yang
sependapat denganku. Teman yang segenre denganku. Teman yang sejenis denganku.
Di pondok Solo, aku
baru menemukan teman sehatiku saat aku duduk di kelas 1 MA. Dia sangat
pengertian sekali. Tahu apa saja tentangku. Tahu apa yang ku suka. Tahu apa
yang ku benci, dan ia juga tahu untuk menyikapi sifat keras ku. Nyaman sekali
berada di dekatnya. Bahkan saking dekatnya, banyak orang bilang kalau wajahku
mirip dengannya.
Ketika aku mondok di
Madura, aku juga menemukan teman yang seperti itu. Aku baru mengenalnya ketika
aku duduk di semester 2.Entah bagaimana cerita pertemuan kita, yang ku tahu,
aku telah berteman dengannya.
Namanya Dianita.
Anak Jember yang memiliki sifat cuek bebek, tak pernah menghiraukan penampilan.
Bersifat "semau gue", dan agak sedikit tomboy. Hampir semua sifatnya
itu sama denganku. Entah mengapa aku merasa nyaman ketika pertama kali mengobrol
dengannya.
Banyak kesamaan yang
kami miliki. Mulai dari hobi travelling, suka mendengarkan musik reggae pop,
cara berfikir yang sejalan dan sama-sama suka makan mienya "Pak
Jalil". Bisa dibilang, pak Jalil lah yang telah mempertemukanku dengannya.
Saking seringnya kami beli mie Pak Jalil, akhirnya kedekatan kami pun mulai
terjalin. Mungkin kalau ditanya siapa yang paling sering beli mie, Pak Jalil
akan menyebutkan nama kami.
"Pak Jalil,
pesen Mie 2 ya... Biasa.." ucapku kepada Pak Jalil yang saat itu sedang
nongkrong di Percetakan IDIA
"Apa? Kare
telur pedas sama Goreng telur gak pedas?" Tanya Pak Jalil
Kami hanya tertawa
dan mengangguk. Begitulah cuplikan percakapan kami dengan Pak Jalil.
Saat itu, mie Pak
Jalil masih disuguhkan di atas mangkok plastik, sehingga kami menikmati mie itu
di dalam kelas sambil minum Teh Pucuk jualan Percetakan IDIA dan ditemani musik
reggae. Namun momen itu hanya bertahan satu semester karena ada salah seorang
Nyai yang mengetahui transaksi penjualan mie di IDIA. Akhirnya Pak Jalil
mengubah metode penyuguhan mie menjadi dibungkus dengan plastik agar tidak
terlihat jelas oleh Nyai.
Semenjak ada
perubahan konsep mie Pak Jalil, konsep makan kami pun berubah menjadi lebih
menyenangkan. Kami membawa mie tersebut ke Gedung Jati dan memakannya di sana
sambil menikmati pemandangan yang menyegarkan hati.
Kebersamaan kami
bukan hanya sebatas "Nge-Mie", sebutan kami untuk momen tersebut.
Kadang kami duduk-duduk sore di atas gubuk sambil berdiskusi tentang apapun.
Mulai dari kejenuhan di pondok, pengalaman di rumah, wisata alam yang pernah
kami lakukan, handphone keluaran terbaru, lelaki idaman bahkan sampai Pak
satpam ganteng pun masuk kedalam diskusi sore kami. Kadang kami tidak hanya
berdua, ada beberapa teman yang sepertinya senang bergaul dengan kami dan
mereka pun ikut mengobrol sambil menghabiskan waktu sore kami.
Aku sempat berfikir,
kenapa aku hanya merasa cocok dengan dia? Padahal bagiku dia orangnya terlalu
cuek, tidak perhatian sama sekali. Semakin dipikir, semakin kosong pula jawaban
di otakku. Mungkin karena kami berasal dari background yang sama. Anak kota
pondokan yang mana kami disuguhi dengan berbagai macam hal yang sama dengan
anak kota pondokan lainnya.
Aku baru tahu kalo pak jalil pernah jualan mie di mangkok🤣🤣
BalasHapusloh kok kamu baru tau sih beb?
HapusIma maah mesti dia ketinggalan.. Nikah ajaa dia yang awalan. ðŸ¤ðŸ˜‚
Hapus