Dilema

Pagi ini kumulai hariku dengan membuka jendela rumahku untuk menghirup udara pagi yang segar. Sederhana. Tapi dari udara itu aku bisa memperoleh ketenangan yang jarang bisa kudapatkan. Entah mengapa, belakangan ini pikiranku selalu saja dipenuhi oleh berbagai macam permasalahan yang muncul dihidupku. Mulai dari masalah keuangan sampai masalah perjodohan.

Aku merupakan anak terakhir dari lima bersaudara yang mana keempat kakak yang mendahuluiku berjenis kelamin laki-laki, jadilah aku anak tercantik kesayangan ayah bundaku. Dan sekarang adalah hari keduaku menetap dirumah setelah aku menghabiskan 1 tahunku untuk mengabdi di pondok Darunnajah Jakarta.

Kegelisahanku dimulai saat ada seorang santriku yang sering sakit dan meminta izin untuk pindah ke pondok yang sama dengan kakaknya. Sehari sebelum kepulangannya, ia berkata kepadaku bahwa yang akan mengurus berkas-berkas perpindahannya ialah Ustad Syahid yang tak lain adalah kakak sepupunya. Mendengar hal itu aku langsung berfikir bahwa kakak dari anak ini mungkin sudah berkeluarga, sehingga tidak mungkin akan menimbulkan hal-hal yang diluar perkiraanku. Namun betapa terkejutnya diriku ketika mengetahui kebenaran dari fakta itu. Beliau ternyata masih seorang santri yang sekarang sedang bertugas sebagai khodim kyai di pondoknya.

Selang beberapa hari setelah ia pulang bersama adiknya, muncul satu pesan di Hp saya yang berbunyi “Assalaamu’alaikum Ustadzah, ini saya, Syahid, Kakak dari Anisa yang kemarin pindah. maaf sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya.” Aku hanya tersenyum membaca pesan yang tidak pernah ku bayangkan bahwa dari pesan itulah kegalauanku muncul.

Beberapa bulan kemudian setelah kami mulai akrab, ia mengirim pesan yang berbunyi “Afwan Ustadzah, kalau boleh, saya ingin meminta izin untuk mengenal antum lebih dekat lagi.” Seketika jantungku seolah berhenti berdetak. Perkataan itu membuatku bimbang karena saat ini posisiku sedang dalam hubungan dengan lelaki yang sudah lama kusukai.

Jadilah seminggu terakhir ini kuhabiskan malamku untuk memikirkan pilihan apa yang harus ku pilih dan mana yang terbaik untukku.

Bagiku kedua-duanya sama baiknya dipikiranku. Kekasihku ialah sosok lelaki yang alim, fasih dalam bacaan Qur’annya, pintar dalam pelajaran kitabnya, dan juga ia dari keluarga pondok. Persis seperti kriteriaku. Ustad Syahid pun begitu, namun yang membedakannya ialah ia sudah menggapai gelar Al-Hafid. Ya, ia telah mengkhatamkan kitab suci Al-Qur’an. Itulah yang membuatku bimbang. sepertinya aku masih sedikit berat kepada kekasihku karena rasa yang kutanam ini sudah cukup dalam, namun lelaki yang hafidz itu adalah impian semua wanita. Hanya ada 1 dari 1000 lelaki di dunia ini.

Akhirnya aku menutup kegalauanku dengan komitmen siapa yang lebih dulu kerumah menemui ayahku, maka itulah pilihanku. Setelah memikirkan itu, kuhempaskan wajahku keatas bantal doraemonku sambil mengambil napas dalam-dalam. Berharap kegalauan ini hilang ditelan oleh paru-paruku yang sedang hampa.


Komentar