Hilangnya si Biru
Kehilangan barang
kesayangan di pondok itu bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi para santri.
Mungkin bisa kita sebut dengan kebiasaan. Entah siapa yang dulu mengawalinya
hingga akhirnya kegiatan itu menjadi suatu yang biasa bagi masyarakat pondok
atau yang biasa kita sebut dengan santri. Bahkan saking seringnya kehilangan
barang, ada orang yang mengatakan bahwa "Barang kita ketika di pondok itu
akan menjadi milik bersama"
Pengalaman pertamaku
tentang kehilangan barang kesayangan ini terjadi saat usiaku baru 5 bulan di
pondok ini. Dimulai saat aku memilih untuk membawa barang kesayanganku ke
pondok ini.
Aku adalah pecinta
converse dan ini adalah kali pertama ku memiliki sepatu converse yang ku beli
dengan harga yang lumayan menyakitkan. Enak sih, nyaman sekali waktu kupakai,
sesuai dengan harga yang ku bayar. Terasa nyaman di kaki walau ku ajak berlari puluhan
meter. Berbeda sekali dengan jejeran sepatu yang ada di rak sepatuku. Berkat
kenyamanannya, sepatu biru itu menjadi sepatu kesayangan yang menemani hari
pertama kuliahku di UIN Jakarta. Sepatu itu juga unik, bisa disebut sebagai kado ulang tahun dari teman kecilku karena ia
memberi potongan 20% sebagai bentuk kado ulang tahunku. Jadilah sepatu itu memiliki dua status. Kado sekaligus barang
yang kubeli sendiri.
Sepatu itu juga memiliki banyak kenangan menyenangkan
denganku. Ia selalu menemani setiap perjalananku. Bukan karena aku tak memiliki
sepatu lain, tapi beginilah aku ketika sudah merasa nyaman akan sesuatu. Sulit
sekali untuk melepaskannya.
Rasa nyaman itu juga
yang membuatku kukuh untuk tetap membawa si biru itu ke Madura. Padahal saat
itu mama sudah melarangku untuk membawanya. Benar kata orang terdahulu.
"Titah orang tua itu pasti benar, tidak mungkin salah".
Selama aku menjadi
santri baru, aku selalu memakai sepatu itu. Baik ketika sedang di kelas maupun
ketika di luar kelas. Saat itu
teman-temanku memakai sepatu model pantovel. Sepatu resmi untuk para pelajar.
Hanya ada beberapa anak saja yang memakai sepatu bertali karena saat itu sepatu
tali belum menjadi trend di tanah air. Aku merasa bangga ketika memakai si biru
karena aku berbeda dari yang lain.
Ketika hari
perpulangan tiba, Aku mulai sibuk dengan menyiapkan pakaian-pakaian yang akan
ku bawa pulang. Maklum, itu adalah liburan pertamaku, sehingga aku merasa
semangat sekali untuk segera pulang dan bertemu keluargaku. Saking semangatnya
aku sampai lupa meninggalkan si biru di rak sepatu pondok.
Akhirnya, ketika
hari kembali ke pondok, aku langsung buru-buru mencari si biru di rak sepatu,
dan ia pun telah raib. Aku hanya bisa menyesali keteledoranku.
Komentar
Posting Komentar