Senyum Ketua Marhalah
Mataku terbelalak
ketika mendengar seseorang menyebutkan namaku saat pemilihan kandidat ketua
marhalah. Rasanya ingin kulempar seluruh isi tempat pensil ini ke wajahnya agar
ia tahu betapa menyebalkan tingkahnya itu. "Kenapa harus namaku yang kau
sebut diantara puluhan teman lainnya?" sahutku geram kepada si pemilik
suara tersebut.
"Dosakah aku
menyebut namamu?" Jawabnya sambil menjulurkan lidah panjangnya itu, dan
saat itu pula namaku resmi tertulis di papan tulis bersama empat orang lainnya
sebagai kandidat ketua marhalah yang belum bernama itu.
Setelah semua nama
kandidat tertulis rapih, sesi pemilihan pun dimulai dengan berasas demokrasi
ala anak SMA. Mula-mula semua kepala ditundukkan agar tidak ada yang dapat
melihat pilihan teman sebelahnya, lalu Bunda kita mulai menyebutkan nama
kanditat satu per satu. Terlihat beberapa tangan terangkat yang menandakan
bahwa nama yang disebut ialah pilihannya. Hal itu diulang sampai pada nama
kandidat terakhir. Setelah pemilihan
selesai, semua kepala pun terangkat , menyuguhkan wajah-wajah penasaran.
Sedetik kemudian terdengar suara sorakan "Yeee, Arina yang terpilih jadi
jadi ketua marhalah". Aku yang mendengarnya hanya bisa menghembuskan napas
sambil tersenyum pahit menerima kenyataan ini.
Penyiksaan ini
ternyata tidak berhenti sampai di situ. Bunda menyuruhku untuk memberikan
sambutan walau hanya satu kata. Saat itu, berbicara di depan banyak orang masih
menjadi kelemahanku. Aku malu. Jantung ini berdetak lebih kencang dari
seharusnya. Tanganku pun menjadi dingin seketika. Mungkin jika mereka semua
memperhatikanku, mereka akan menyadari bahwa tanganku bergetar. Namun aku
mencoba untuk kuat. Memotivasi diri sendiri bahwa ini adalah gerbang menuju
sukses.
"Terima kasih
untuk teman-teman yang telah mempercayakan jabatan ini kepadaku" Ucapku
sebagai kalimat pembuka. Suasana menjadi terasa horor ketika semua orang
terdiam memperhatikanku. Aku pun menjadi
salah tingkah, semua yang ada di otakku pun hilang seketika. Akhirnya aku
menyerah dan pergi menghampiri kursi sambil membawa jabatan baru. Ketua
Marhalah yang belum bernama.
Ternyata menjadi
ketua marhalah itu bukanlah hal yang mudah. Menyatukan 40 pemikiran untuk
menjadi satu itu ibarat mengumpulkan
domba-domba yang sedang lari dalam ketakutan. Sulit sekali. Pengalaman
pertamaku sebagai ketua marhalah dibuka pada malam peresmian marhalah dengan
dibanjiri oleh air mata. Bagaimana tidak, semua persiapan peresmian hanya
dikerjakan oleh segelintir orang saja. Selebihnya hanya acuh tak acuh akan
kesuksesan acara tersebut. Pada saat itu aku berfikir, apakah aku dibebankan
jabatan ini hanya untuk mejadi seperti ini?.
Semua pemikiranku
berubah ketika ada seorang teman yang memahamiku dan berkata, "Mereka itu
bukannya gak mau kerja, tapi hanya tidak tahu apa yang harus dikerjakan".
Dari situlah aku mulai paham akan teman-temanku. Mereka itu perlu sebuah perintah,
bukan sindiran.
Seperti inikah hidup
itu? Penuh dengan perbedaan dan pertentangan. Dan untuk mendapatkan kenyamanan
kita harus menyatukan perbedaan itu. "Terima kasih tuhan telah
menakdirkanku untuk menjadi ketua marhalah. Karena dengan begitu aku bisa
memahami artinya kehidupan". Ucapku kepada bintang di malam itu.
Komentar
Posting Komentar