Siraman Air Kebahagiaan


"Bahagia itu gak bisa di ukur dengan uang" Kalimat itu selalu terngiang di telingaku. Entah siapa yang mengucapkannya. Aku lupa. Tapi dari kalimat itu aku jadi memiliki keinginan untuk terus bisa bahagia.

Bahagia juga tidak mesti dalam kondisi senang. Bahagia itu diciptakan. Salah jika ada orang yang setuju dengan kata "kebahagian itu di cari" karena sejauh apapun kita mencari kebahagiaan kalau diri kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan itu akan percuma. Sia-sia.

Hari ini aku telah mempraktekan cara membuat kebahagian. Sepele sekali. Kubuat dari kegiatan yang awalnya terasa sangat membosankan menjadi sangat menyenangkan. Menguras Kamar Mandi.

Bagi para santri, mendapat jatah menguras kamar mandi yang hanya seluas garasi mobil itu seperti menyapu lapangan sepak bola. Sangat melelahkan dan menyebalkan. Begitu pula aku, mengangkat sikat yang seukuran telapak tangan itu seperti mengangkat barbel seberat  seberat 5 kg. Untungnya menguras kamar mandi itu tidak dilakukan seorang diri, tapi sesuai kelompok yang sudah ditentukan.  Karena jumlah penghuni kamar ini hanya sepuluh orang, maka satu kelompok terdiri dari lima orang saja, dan dari lima orang tersebut harus dibagi lagi menjadi dua kelompok. Kelompok penguras bak mandi dan penyikat dinding kamar mandi.

Ritual menguras kamar mandi pada minggu ketiga bulan februari ini jatuh pada kelompok satu yang terdiri dari aku, Emi, Indah, Della dan Linda. Namun pada hari ini, Linda sedang mendapatkan keberuntungan karena ia sedang pulang sehingga terhindar dari agenda menguras kamar mandi ini.

Ritual ini diawali dengan menempatkan setiap personil di tempat yang sudah di jadwalkan. Jika pada minggu kemarin mendapatkan bagian menyikat dinding kamar mandi, maka pada minggu ini akan mendapatkan jatah menguras bak mandi yang super panjang itu. Karena Linda sedang pulang, maka agenda penempatan itu dihilangkan dan di ganti dengan agenda menguras bersama.

Dimulai dengan menyikat dinding yang sudah mulai mengeruh akibat seminggu tak di sikat. Terlihat Della dan Emi sudah siap dengan formasi siap. Sikat di tangan kanan dan cairan prostek di tangan kiri. Indah masih disibukkan dengan mencari sikat yang sudah tidak terpakai, dan aku mendapat kehormatan untuk membersihkan sarang laba-laba yang sudah berumur ratusan hari.

Detik-detik awal masih terlihat rona ceria di wajah kami. Masih terdengar pula ocehan ngalor-ngidul yang memenuhi ruangan kamar mandi itu. Sampai tibalah di menit ke 30. semuanya tiba-tiba menjadi hening. Saat ku lihat, ternyata mereka sudah KO. Terdengar hembusan napas yang sangat berat dari hidung mereka.  Padahal saat itu mereka baru menyelesaikan menyikat dinding bagian luar kamar mandi. Akhirnya kami memilih untuk istirahat sejenak sebelum berpindah kedalam bak mandi yang sudah butek tersebut.

Saat kami sudah sedikit pulih, kami mulai menyikat bak mandi yang panjang itu. Setehel demi setehel kami sikat dengan penuh kekuatan agar warnanya kembali cerah seperti sedia kala. Tak peduli gatal yang disebabkan oleh cairan prostek yang menetes di tangan kami tetap saja menyikat bak mandi tersebut.

Setelah semua telah disikat, kami pun membilas dinding bak tersebut dan langsung mengisi bak dengan air yang jernih. Saat melihat derasnya air yang keluar, tiba-tiba terbesit ide untuk menyiram ketiga temanku yang sudah kelelahan itu. Akhirnya ku ambil air segayung, lalu aku berjalan diam-diam ke arah mereka dan "Byuuur" segayung air mendarat tepat di atas ubun-ubun Della. Sontak ia berteriak dan kulanjutkan dengan menyiram air cidukan kedua kearah Indah.

Ketika kami bertiga sudah basah kuyup, kami menyadari ada satu yang hilang. Emi. Dia bersembunyi di kamar. Kami pun menyeretnya ke kamar mandi dan mengguyurnya hingga puas. Kami pun tertawa bersama. "Lain kali kalo nguras main air begini aja biar seru" Ujar Indah sambil tertawa.

Akhirnya, menguras kali ini diakhiri dengan perasaan yang bahagia. Berkat segayung air, kebahagiaan itu menyelimuti kebosanan kami. Semua kejenuhan berubah menjadi canda tawa yang membahagiakan.

Komentar

Posting Komentar