Postingan

Adikku Sakit

Jauh dari orang tua adalah hal yang paling menyedihkan. Tidak bisa merasakan kasih sayang mereka lagi, tidak bisa merasakan masakan mama, tidak bisa bercerita dengan mama dan yang paling menyedihkan adalah tidak bisa dirawat mama ketika sakit. Salah satu alasanku mondok di Madura adalah untuk menemani adikku yang juga mondok   di pondok yang sama denganku, hanya beda lembaga saja. Jadi aku tidak sendiri di sini. Aku masih memiliki satu saudara yang bisa menjadi tempat curhatku. Jarak asramaku dengan adikku hanya sekitar 400 meter, dan biasanya jam kunjunganku adalah hari Jum'at. Jika santri lain dijenguk oleh orang tuanya tiap Jum'at, maka adikku adan di jenguk olehku tiap Jum'at. Ku habiskan hari Jum'atku dari pagi hingga sore di pondoknya. Mulai dari makan bakso di kantin, menelpon mama lewat wartel dan kadang aku membantu merapihkan lemarinya. Aku bahagia bisa bertemu dengannya di tiap Jum'at. Sampai akhirnya aku mendapat kabar sepucuk surat yang di...

DIANITA

Pernahkah kalian memiliki teman yang sehati dan sejalan denganmu? Disetiap pondok yang aku tempati, aku memiliki orang yang sejalan dengan diriku. Teman yang sependapat denganku. Teman yang segenre denganku. Teman yang sejenis denganku. Di pondok Solo, aku baru menemukan teman sehatiku saat aku duduk di kelas 1 MA. Dia sangat pengertian sekali. Tahu apa saja tentangku. Tahu apa yang ku suka. Tahu apa yang ku benci, dan ia juga tahu untuk menyikapi sifat keras ku. Nyaman sekali berada di dekatnya. Bahkan saking dekatnya, banyak orang bilang kalau wajahku mirip dengannya. Ketika aku mondok di Madura, aku juga menemukan teman yang seperti itu. Aku baru mengenalnya ketika aku duduk di semester 2.Entah bagaimana cerita pertemuan kita, yang ku tahu, aku telah berteman dengannya. Namanya Dianita. Anak Jember yang memiliki sifat cuek bebek, tak pernah menghiraukan penampilan. Bersifat "semau gue", dan agak sedikit tomboy. Hampir semua sifatnya itu sama denganku. Ent...

My Heaven

Aktifitas pondok yang berulang-ulang membuatku terkubur dalam kebosanan. Bingung mencari kegiatan apa yang dapat mengusir kebosanan. Bahkan saking bosannya aku sampai mengayal menemukan pintu doraemon yang terlantar sehingga aku dapat pergi kemanapun aku mau. Pernah di suatu sore, aku berinisiatif jalan sore menuju persawahan milik masyarakat setempat. Refreshing mata. Ingin melihat sesuatu yang hijau sekaligus menyegarkan paru-paru. Ku ajak beberapa teman dekatku. Mereka ternyata menyambut ajakanku dengan gembira. Kami berjalan seperti semut yang sedang berbaris. Terlihat indah karena kami memakai baju yang berwarna-warni. Sesekali terlihat ibu-ibu yang sedang memotong rumput. Ada pula bapak-bapak yang sedang memikul air untuk mengisi sumur di sawah mereka. Pemandangan yang sangat menyegarkan sekali. Sesampainya di ujung sawah kami dikejutkan dengan pemandangan yang lebih menarik perhatian kami. Seperti sebuah taman alami yang dibentuk oleh alam. Terlihat rumput-rumput t...

Kue yang Terciduk

Hari ini adalah hari ulang tahun keluargaku yang pertama. Tepatnya pada tanggal 09 September 2015. Setahun sudah keluarga ini berdiri. Tak terasa kami sudah mulai menyatu menjadi keluarga yang kokoh. Seperti marhalah lainnya, ulang tahun marhalah di rayakan dengan cara mengaji bersama serta dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari marhalah lainnya dan terakhir membagikan bingkisan kepada setiap marhalah. Sudah adatnya seperti itu, sehingga kami yang masih anak bawang hanya mengikuti adat yang sudah ada. Acara ulang tahun ini dirayakan dengan sangat sederhana, diselenggarakan di musholah IDIA dan hanya memberi sebuah bingkisan berisi jajanan kepada masing-masing marhalah, dilanjut dengan makan bersama di kelas bersama wali kelas tercinta. Sangat sederhana. Tapi itu tidak masalah, karena yang dibutuhkan adalah memupuk sifat kekeluargaan dan kekompakan. Terlihat rona kebahagiaan di wajah saudari-saudariku. Semua menyunggingkan senyuman yang indah. Tak ada satupun yang menekuk w...

Siraman Air Kebahagiaan

"Bahagia itu gak bisa di ukur dengan uang" Kalimat itu selalu terngiang di telingaku. Entah siapa yang mengucapkannya. Aku lupa. Tapi dari kalimat itu aku jadi memiliki keinginan untuk terus bisa bahagia. Bahagia juga tidak mesti dalam kondisi senang. Bahagia itu diciptakan. Salah jika ada orang yang setuju dengan kata "kebahagian itu di cari" karena sejauh apapun kita mencari kebahagiaan kalau diri kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan itu akan percuma. Sia-sia. Hari ini aku telah mempraktekan cara membuat kebahagian. Sepele sekali. Kubuat dari kegiatan yang awalnya terasa sangat membosankan menjadi sangat menyenangkan. Menguras Kamar Mandi. Bagi para santri, mendapat jatah menguras kamar mandi yang hanya seluas garasi mobil itu seperti menyapu lapangan sepak bola. Sangat melelahkan dan menyebalkan. Begitu pula aku, mengangkat sikat yang seukuran telapak tangan itu seperti mengangkat barbel seberat   seberat 5 kg. Untungnya menguras kamar mandi itu ...

Hilangnya si Biru

Kehilangan barang kesayangan di pondok itu bukan menjadi hal yang tabu lagi bagi para santri. Mungkin bisa kita sebut dengan kebiasaan. Entah siapa yang dulu mengawalinya hingga akhirnya kegiatan itu menjadi suatu yang biasa bagi masyarakat pondok atau yang biasa kita sebut dengan santri. Bahkan saking seringnya kehilangan barang, ada orang yang mengatakan bahwa "Barang kita ketika di pondok itu akan menjadi milik bersama" Pengalaman pertamaku tentang kehilangan barang kesayangan ini terjadi saat usiaku baru 5 bulan di pondok ini. Dimulai saat aku memilih untuk membawa barang kesayanganku ke pondok ini.   Aku adalah pecinta converse dan ini adalah kali pertama ku memiliki sepatu converse yang ku beli dengan harga yang lumayan menyakitkan. Enak sih, nyaman sekali waktu kupakai, sesuai dengan harga yang ku bayar. Terasa nyaman di kaki walau ku ajak berlari puluhan meter. Berbeda sekali dengan jejeran sepatu yang ada di rak sepatuku. Berkat kenyamanannya, sepatu biru i...

Senyum Ketua Marhalah

Mataku terbelalak ketika mendengar seseorang menyebutkan namaku saat pemilihan kandidat ketua marhalah. Rasanya ingin kulempar seluruh isi tempat pensil ini ke wajahnya agar ia tahu betapa menyebalkan tingkahnya itu. "Kenapa harus namaku yang kau sebut diantara puluhan teman lainnya?" sahutku geram kepada si pemilik suara tersebut. "Dosakah aku menyebut namamu?" Jawabnya sambil menjulurkan lidah panjangnya itu, dan saat itu pula namaku resmi tertulis di papan tulis bersama empat orang lainnya sebagai kandidat ketua marhalah yang belum bernama itu. Setelah semua nama kandidat tertulis rapih, sesi pemilihan pun dimulai dengan berasas demokrasi ala anak SMA. Mula-mula semua kepala ditundukkan agar tidak ada yang dapat melihat pilihan teman sebelahnya, lalu Bunda kita mulai menyebutkan nama kanditat satu per satu. Terlihat beberapa tangan terangkat yang menandakan bahwa nama yang disebut ialah pilihannya. Hal itu diulang sampai pada nama kandidat terakhir.   Set...